[CUKILAN BUKU]
Perang VOC yang paling besar pernah dilakukan di Pulau Jawa bukanlah perang melawan seorang raja, tetapi perang melawan pasukan gabungan Jawa dan Tionghoa, yang dikenal sebagai Perang Sepanjang, atau juga sebagai Perang Kuning pada tahun 1740-1743.
(2013) oleh Daradjati
—
—
6 April 1742, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sunan Amangkurat V yang baru ditunjuk sebagai Raja Mataram menggelar bekti.
Sunan Pakubuwono II, pada awalnya mendukung Laskar Tionghoa, sekarang malah beralih untuk memusuhi mereka dan mendukung Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), atau sering juga disebut Kompeni Dagang Hindia Timur.
Raja baru, yang juga dikenal sebagai Sunan Kuning, memiliki hubungan dekat dengan orang Tionghoa. Beberapa panglimanya berasal dari etnis tersebut. Dia tidak setuju dengan raja yang berubah-ubah, serta ingin melindungi orang Tionghoa.
Sebelum itu, pada bulan Agustus 1741, Sunan Pakubuwono II, Raja Mataram di Kartasura, memerintahkan seluruh tuntutannya untuk membantu Laskar Tionghoa dalam melawan VOC.
Tapi pada awal tahun 1742 perintah tersebut dicabut dan diganti dengan perintah sebaliknya yang mendukung VOC dan menentang Laskar Tionghoa.
Para putera mahkota dan epidemi ulama Cina seperti Singseh dan Sepanjang memiliki opini yang sama untuk menentang perintah itu berdasarkan ketentuan hukum, dimana Pakubuwono II sudah digantikan oleh Amangkurat V.λμ Banyak Bupati yang setuju dengan pemberontakan itu berhasil dikalahkan oleh VOC.
PB II meminta bantuan VOC. Hugo Verijsel, Komisaris VOC di Semarang disaat itu heran mengapa pasukan Pakubuwono II kalah oleh ribuan “Orang Tionghoa”. Kompeni tidak sadar, pasukan Laskar Tionghoa asli hanya sedikit dalam jumlah, tetapi lebih besar dan lebih kuat daripada tentara Jawa.
Pangeran Verijsel ragu-ragu mengirim pasukan, karena harus melalui hutan rawa, apa lagi di tengah musim hujan. Setelah berkonsultasi dengan pemerintah di Batavia, Verijsel menyetujui untuk mengirimkan satu batalyon tentara VOC ke Kartasura.
Jempatan dengan pasukan Amangkurat V dan Tionghoa, VOC kemudian memberikan satu garnisun lagi. Tentu dengan balasan yang manfaat: penangkapan terhadap beberapa tokoh yang dianggap berbahaya, pembatasan wilayah operasi pasukan, serta klaim-klaim dan konsesi kekuasaan.
Wilayah Madura, contohnya, diintai oleh VOC, tapi semuanya malah meningkatkan resistensi pemberontakan. Kawasan yang direbut pasukan Tionghoa dan Amangkurat V semakin luas, semakin banyak bupati yang membelot dari packaging II.
Kapitan Sepanjang
Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta pada tahun 1619. Orang Belanda kemudian mengganti nama kota dengan nama Batavia. Setelah itu, pelabuhan dibangun, saluran air dibuat, benteng-d Benteng didirikan, dan kota dikembangkan.
Perkembangan kota, selain menciptakan orang kaya, juga membuat banyak orang migran datang untuk mencari sumber mata pencaharian.
Kota Batavia nyaman untuk dihuni, sementara sekitarnya merupakan daerah subur. Para imigran Tionghoa dan Eropa mengembangkan daerah itu untuk pertanian dan industri, terutama gula.
Pada tahun 1740, perekonomian Batavia mengalami penurunan. Seluruh pembangunan diselesaikan. Industri gula juga mengalami penurunan.
Hutan yang menjadi sumber bahan bakar bersangkutan sangat perlu menjaga jarak tanaman sawit yang lebih jauh dan memproduksi gula dengan biaya tinggi. Di Indonesia, negara bagian lain seperti Taiwan, Filipina, Malaka, Benggala, dan Hindia Barat menunjukkan tingkat produksi gula yang meningkat.
Bagi Kompeni, situasi tersebut menguntungkan. Untuk bersaing di pasar global harga gula harus ditingkatkan, akibatnya para produsen gula untung.
Keresahan mulai muncul, tingkat pengangguran meningkat, dan angka kejahatan melambung. Meskipun begitu, minat para imigran, termasuk orang Tionghoa, baik secara legal maupun ilegal, tidak berkurang untuk datang ke Batavia.
Pemerintah VOC sudah lama melaksanakan pembatasan bagi imigran Tionghoa. Pada tahun 1690, mereka mulai menerapkan kuota imigrasi untuk mereka yang meninggalkan Cina dan datang ke Batavia.
Pendatang dari Tiongkok tetap banyak, terutama melalui pesisir yang tidak terduga oleh Kompeni. Karena tidak terdaftar, mereka tidak membayar pajak.
Untuk menghindari penangkapan oleh anggota polisi, mereka – terutama para imigran/pekerja di perkebunan di luar kota – harus membayar uang perlindungan kepada polisi dan pengikut-pengikutnya. Jika mereka tidak membayar, mereka akan diancam diusir atau selanjutnya diekspor ke Sri Langka.
Para pekerja ilegal bak sapi perah bagi aparat korup maka menjadi lama-lama.
Artinya Tamu Baru) harus membayar 15 ringgit.
Dari sisi lain, pada 26 Mei 1706, VOC menghilangkan batasan 50 penumpang sudah sejak itu menaiki kapal jung, menjadi 80-100 orang, namun dengan syarat membayar cukai identik.
Bilangan penduduk Tionghoa kembali meningkat. Jika pada tahun 1719 tercatat jumlahnya sebanyak 7.550 jiwa, maka pada tahun 1739 bertambah menjadi 10.574 jiwa. Jumlah sebenarnya pasti lebih besar dari itu mengingat banyak imigran Tionghoa yang menjadi bagian dari penduduk ilegal di Batavia.
Untuk mengurangi jumlah imigran ilegal, pemerintah melakukan razia secara teratur. Orang yang tidak berhak tinggal dari rasian tersebut diwajibkan membayar 2 ringgit untuk mendapatkan izin menginapas.
Selanjutnya, pada tahun 1738, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier mengeluarkan keputusan: semua penduduk Tionghoa, baik yang telah memiliki izin tinggal maupun belum, wajib memiliki izin baru yang disebut “permissie brief” dengan syarat pembayaran sejumlah dua ringgit.
Banyak pendatang Tionghoa yang sering ditindak secara sewenang-wenang oleh wajib aparat. Mereka ditangkap, bebas, lalu ditangkap lagi. Semua tuduhan itu lebih dari sekedar isu impreknis karena VOC saat itu sedang mengalami kesulitan keuangan yang parah.
Harga rempah-rempah di Eropa menurun, dan mereka yang terlibat dalam perdagangan, khususnya komoditas kopi, kehilangan daya saing dibandingkan dengan Kompeni EIC (East India Company) Inggris.
Saat itu Batavia mengalami suasana yang mengepung karena penyebaran penyakit disentri dan kolera. Keterika pembukaan perayaan Imlek tahun 1740, situasi menjadi konyol setelah Kompeni melakukan penangkapan massal terhadap orang Tionghoa yang diduga tidak memiliki izin.
Dapat ditafsirkan sebagai hal yang tidak adil untuk orang Tionghoa yang merasa sah sebagai warga lokal, menimbulkan perlawanan mereka. Ketika Kompeni melakukan tindakan represif, mereka menanggapinya dengan cara agresif.
Menurut laporan Kepala Personalia VOC De Roy kepada Gubernur Jenderal Valckenier 4 Februari 1740, orang Cina mulai melancarkan serangan ke atas penjara untuk memutuskan rantai tahanannya dari teman-teman mereka yang terkurung.
Gubernur-Jendral meminta saran kepada Dewan Hindia, tetapi jawaban pada 25 Juli 1740 malah membuat situasi semakin buruk: orang Tionghoa, berkewarganegaraan atau tidak, yang dicurigai melakukan tindakan tidak baik akan ditangkap, dan mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap akan diekspor ke Sri Lanka.
Kerusuhan menyebarkan diri. Terdapat Kapiten Tionghoa Batavia yang dipilih oleh Kompeni sejak 1736, Nie Hoe Kong, yang tidak sanggup memadamkan kekacauan karena tidak memiliki kendali atas pekerja bekas pabrik gula yang bangkrut di luar kota.
Buruh-buruh itu berada di bawah kendali atasannya, yaitu mandor dan phothia, atau sering disebut juga operator pabrik. Mereka inilah yang menjadi pimpinan bagi buruh-buruh dalam menghadapi ancaman, seperti reaksi dari pengawas VOC.
Pada bulan September 1740 diperhatikan sekitar 1.000 orang Tionghoa berkumpul di sebuah pabrik gula di Gandaria (sekarang bagian dari Jakarta Selatan). Mereka dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipanggil Khe (Que) Panjang di antara kalangan Kompeni.
Dalam bahasa Jawa, pribadi yang nantinya akan menempati posisi utama selama Perang Tionghoa di Jawa disebutkan sebagai Sepanjang atau Kapitan Sepanjang.
Ada beberapa versi tentang tokoh ini. Beberapa sumber menyebutkan bahwasannya namanya sebenarnya Souw (Oey) Phan Chiang, Wang Tai Pan, atau Tay Wan Soey. Di antara namanya, Tay Wan Soey dipercaya sebagai pemimpin pemberontakan Tionghoa yang pernah dipanggil oleh VOC bersama Van Imhoff dan Van Aarden, namun ia menolak untuk menerima tawaran tersebut.
Menurut para cendikiawan sejarah, seperti B.J. Veth dan Du Bois, Tay Wan Soey adalah saudara lain ibu dari Kaisar Kin Lung/Kian Liong (Qian Long) yang dibuang ke luar Tiongkok karena diduga berencana melakukan pemberontakan. Beberapa teori juga menyebutkan bahwa nama Tay Wan Soey berasal dari faksimili Tay Guan Soey, yang berarti “seseorang yang memimpin pasukan”.
Jadi kuasa itu bukanlah nama orang yang nyata, melainkan julukan yang diduga memimpin pemberontakan di Tiongkok, lalu melarikan diri ke Jawa untuk memimpin pemberontakan melawan Kompeni.
Benar bahwa detail tentang nama Tay Wan Soey atau Khe Panjang berbeda, tetapi ada petunjuk yang konsisten, yaitu bahwa ia baru saja datang dari Tiongkok. Sebutan Khe atau Que berasal dari kata Singkek, pasalnya.
Meskipun ketika telah terintegrasi ke dalam masyarakat setempat, lambang ketaatan kepada bangsa Manchu itu dipotong.
Perhaps this question requires some context.
Seseorang yang taat akan mencari kemudahan, sementara mereka yang berontak akan dibunuh. Keributan semakin memburuk. Banyak orang Tionghoa yang tidak bersalah menjadi korban.
Pemberontakan dilawan secara sporadis, Kompeni melakukan penangkapan rumah demi rumah, menyebabkan pencalahan dan pembunuhan. Gubernur Jenderal Valckenier memerintahkan semua kekuatan militer di Batavia untuk menghabisi orang Tionghoa.
Kelompok masyarakat lain diajak untuk ikut menganiaya. Lebih dari 500 orang dari etnis Tionghoa dibunuh, serta lebih dari 600 bangunan atau rumah yang dimiliki oleh orang Tionghoa hancur.
Peristiwa tersebut menyebar ke luar kota. Pemberontak Tionghoa menyerang pos Kompeni di daerah lain. Pertempuran sengitenez meluas. Korban jatuh dahilnya dari golongan pemberontak dan Kompeni. Dugaan telah turut beredar bahwa nama Rawa Bangke memiliki hubungan dengan peristiwa tersebut.
Kapten Nie Hoe Kong dimasukkan ke dalam pidato untuk didakwa atas tuduhan perannya dalam pemberontakan. Dia kemudian diasingkan ke Maluku.
Gubernur Jenderal Valckenier sendiri dipenjara oleh Dewan Hindia. Dia digantikan oleh Van Imhoff yang kemudian menghadapi pemberontakan Tionghoa yang terus berlangsung.
Valckenier di Afrika Selatan dipersilakan kembali ke Jakarta dan diadili lebih lanjut. Kesalahannya sedang dibahas secara panjang lebar hingga beliau wafat pada 20 Juni 1751, namun perkara itu belum selesai�프
Pemberontak yang dipecundangi melakukan konsolidasi ke wilayah timur. Selain Kapten Sepanjang, nama lain yang memimpin pasukan pemberontak pasca pembantaian Oktober 1740 adalah Pibulung.
Mereka juga terlibat dalam pemberontakan terhadap pemerintahan Jawa. Akibatnya, para pemberontak Batavia mengarahkan serangan ke timur, meskipun sebenarnya mereka telah melakukan pemberontakan terhadap pos-pos VOC di Yogyakarta sebelumnya. Ketika mereka dipimpin oleh bupati maupun raja yang bersekongkol dengan VOC, mereka pun melakukan pemberontakan.
Nyonya Peranakan lebih dikenal sebagai generasi masyarakat Tionghoa Eurasia di Asia Tenggara umumnya di abad ke-19 dan ke-20.
Pada tahun 1292, pada sebuah pulau kecil bernama Karimunjawa di sebelah utara Kota Jepara, Jawa Tengah, ribuan tentara Tiongkok yang terdiri dari prajurit Mongol dan Tionghoa mendarat. Masyarakat Jawa biasa menyebut mereka dengan sebutan Tartar.
Mereka adalah tentara Khaan Kubilai, penguasa Mongolia di Tiongkok selama Dinasti Yuan. Pada tahun 1289 dia mengutus seorang duta bernama Meng K’i ke Kerajaan Singasari di Jawa Timur.
Dipanggil menghadap, orang percakapan itu dipukul muka dan telinga diundi oleh Raja Kertanegara.
Tentu saja Kaisar Tiongkok sangat marah melihat perlakuan itu. Dia mengirimkan ekspedisi militer yang dipimpin oleh Zhu Hsing. Tapi ketika mereka tiba di Singosari, Raja Kertanegara sudah meninggal dan takhta diambil alih oleh Jayakatwang.
Putra Mahkota Kertanegara, Raden Wijaya, memintai pasukan keberangkatan Kau Hsing untuk menyerang Jayakatwang dengan janji harta saudara mendapat setengah wilayah Singasari jika berhasil. Ketika menang, ternyata Raden Wijaya melanggar janji.
Pasukan Cina pun kemarahan dan berperang dengan lawan mereka. Pada masa perang, sebagian tentera Cina yang terpisah dari pimpinannya kemudian menetap di sekitar pesisir Jawa Timur dan menggugurkan keturunan dengan penduduk tempatan.
Setelah itu, tidak pernah lagi terdengar berita tentang pengiriman pasukan perang Tiongkok ke Jawa. Pada saat itu, Bangsa Tiongkok dan Eropa sama-sama memiliki armada laut yang kuat.
Orang Tiongkok telah mengunjungi Nusantara jauh sebelum orang Eropa datang ke Nusantara. Menurut cerita, orang Tionghoa yang merupakan orang yang menemukan bubuk mesiu, dan bubuk mesiu ini kemudian dikembangkan atau ditemukan kembali oleh orang Eropa setelah perjalanan Marco Polo.
Tapi kedua bangsa itu masing-masing mengambil jalur yang berbeda. Bangsa Eropa rela berkuasa di wilayahnya, sedangkan orang Tionghoa lebih suka mencapai tujuan melalui perdagangan dan pengaruh budaya. Secara umum orang Tionghoa suka menghindari konflik.
Ekspedisi besar dari Tiongkok kembali mengunjungi Jawa pada sekitar tahun 1405-1433, dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, yang nama lengkapnya adalah Ma He Ma atau Maharaja Muhammad di Tiongkok, berasal dari Yunan. Beliau seorang Muslim yang saleh, putra seorang haji, serta закры orang kepercayaan Zhu Di dari Dinasti Ming.
Kaisar inilah yang memerintahkan Cheng Ho untuk melakukan perjalanan keliling dunia. Pada 1407, Cheng Ho mendirikan sebuah sekolah bahasa di Nanjing guna melatih para penerjemah untuk membantu dia berkomunikasi dengan para peninggal di tempat tujuan. Untuk itu, kedatangan Cheng Ho juga meningkatkan jumlah imigran Tiongkok di Jawa.
Kota terpenting yang pernah dikunjungi Cheng Ho di Jawa adalah Semarang, meski sayangnya tidak semua imigran Tiongkok melewati Semarang.
Banyak juga yang berhenti di Banten atau Sunda Kelapa. Kota-kota pelabuhan strategis seperti Jepara, Juwana, Tuban, Gresik, dan Pasuruan memang merupakan bagian dari Wilayah Kerajaan Mataram.
Selain para penumpang, kapal juga membawa barang dagangan sepertiollen, sutra, tekstil, kertas, dll. Merekapun menggunakan mata uang yang berlaku di era itu, termasuk Real Spanyol dan uang logam Tionghoa yang dikenal sebagai Gobang di Jawa atau Kepeng di Bali sementara itu, untuk urusan keuangan digunakan juga uang VOC.
Masyarakat Tionghoa, yang dulunya jahit sabut sabut, membawa perubahan besar dalam teknologi pembuatan bangunan, terutama dalam pembuatan batu bata dan genting. Di bidang perkebunan, mereka mengolah tebu menjadi gula dan memasarkannya.
Mereka juga membuat kertas dan berbagai barang lain. Dalam jangka panjang pengaruh mereka ada dalam arsitektur, kesenian, dan lain-lain. Mereka mendirikan pusat-pusat industri dan kerajinan, dan pusat-pusat ekonomi seperti pasar.
Orang Tionghoa yang beremigrasi menetap di wilayah lain tanpa membawa istrinya, kemudian beradaptasi dengan penduduk setempat, menikah, dan memiliki keturunan. Pada etnisitas Tionghoa, istilah “Nyonya Mentera” digunakan untuk menunjukkan perempuan yang telah dinikahi oleh pria Tionghoa yang berkurung. Dan istilah “Tionghoa Peranakan” digunakan untuk menunjukkan keturunan hasil perkawinan antara perempuan lokal dengan pria Tionghoa.
Di kalangan orang Tionghoa sendiri sering muncul perselisihan. Maka pihak VOC memperkenalkan sistem birokrasi dan administrasi kependudukan. Dibuktikan beberapa orang dengan pangkat title yang mulai dari letnan, kapten, hingga mayor.
Pengganti J.P. Coen, Anthony Van Diemen, membuat Undang-Undang Pertama tentang Perusahaan, yaitu “Ketentuan Batavia”.
Anti×
Dalam proses mewujudkan Batavia sebagai kota modern, dia membangun bangunan-bangunan berickerangan Eropa, saluran air dengan jembatan, dua gereja, serta memacu perkembangan industri, khususnya sektor gula hasil pengelolaan orang-orang Tionghoa.
Tapi sampai Gubernur Jenderal Van Diemen meninggal di Batavia pada 1646, kesepakatan dengan Mataram belum ada. Hanya pada bulan Februari 1677 kemudian disepakati, VOC akan membantu raja melawan musuhnya, dengan syarat raja harus membayar semua biaya yang dikeluarkan.
Raja juga wajib memberi keleluasaan ekonomi kepada Perusahaan. Perjanjian untuk kali pertama diterapkan ketika Perusahaan membantu Amangkurat II untuk mengalahkan pasukan Trunajaya dari Surabaya. Trunajaya ditangkap pada tahun 1679, namun mestinya tidak semua janji Amangkurat II kepada Perusahaan dipenuhi.
Perusahaan tersebut semakin sering terlibat dalam konflik bersenjata. Mereka memerlukan pasukan yang lebih banyak dan persenjataan yang lebih modern. Armada VOC pada tahun 1650 memiliki sekitar 100 hingga 150 kapal, dan pada awal abad ke-18 memiliki sekitar 8.000 serdadu profesional.
Tapi usaha dagang Perusahaan tidak selalu menghasilkan keuntungan. Tidak setiap kali mereka bisa membayar tentara, pegawai, tukang, dan pekerja (termasuk warga Tionghoa kelas bawah).
Di antara 23 kantor VOC di Asia, hanya tiga yang menghasilkan laba sepanjang tahun, sementara sembilan kantor selalu mengalami rugi. Selain mengalami kekalahan dalam perdagangan rempah-rempah di Eropa, harga gula juga melemah.
Penjualan tekstil menurun sekitar 90% karena industri tekstil di dalam negeri yang dikelola oleh Bumiputera dan Tionghoa Peranakan berlanjut dengan pesatnya Mereka berhasil memonopoli pasar “teksalur.” Tantagnya monopoli candu tidak berkhasiat karena kemampuan masyarakat Jawa untuk membeli melemah.
Pada waktu yang sama, VOC juga terkena serangan virus korupsi. Saat Cornelis Janszoon Speelman, Gubernur Jenderal VOC, meninggal pada tahun 1684, sejumlah penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi angka yang beliau lakukan terungkap. Termasuk berbagai laporan keuangan palsu.
Karena persaingan biaya, Kompeni banyak menuntut orang-orang dan bangsawan yang mereka taklukkan. Orang-orang bosan sehingga muncul pemberontakan pada berbagai daerah.
Gegaran yang melanda Banten, Riau, dan tempat lain di luar Jawa makin menghabiskan uang VOC. Bahkan ketika Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn (1691-1704) menolak diganti Johan van Hoorn hingga VOC memiliki dua Gubernur Jenderal, kondisi VOC sangat rapuh.
Lawan Kompeni di Eropa, yaitu Portugis, juga telah kehilangan daya tawarnya. Sayangnya, para pemimpin di Jawa tidak dapat memanfaatkan kesempatan ini.
Sultan Haji di Banten baru saja sibuk merebut kekuasaan dari ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan rakyat Mataram juga lelah dengan perang yang berkepanjangan. Oleh karena itu, Kompeni kemudian melakukan konsolidasi.
Tidak pernah menyerah
Pembalasan itu mengawal nazari pembantaian di Batavia pada bulan Oktober 1740. Pasukan Kapten Sepanjang yang terjepit segera bergerak ke arah timur.
Perebutan mereka mengejutkan orang-orang Tionghoa di tempat lain untuk menyerang pos-pos Kapten Belanda. Di Majeng, Pati, tanggal 14 Februari 1741, mereka membunuh Kopral Claas Lutten dan mengambil miliknya, kemudian membakar rumahnya.
Di bulan April, sebuah kelompok yang lebih besar dipimpin Singseh (Tan Sin Ko) muncul ke Tanjung Welahan (dekat Demak). Kompeni meminta bantuan dari para penguasa lokal, namun kebanyakan ditolak karena orang Jawa tidak biasanya menentang orang Tionghoa.
Kalaupun ada pasukan bupati yang berperang melawan Laskar Tionghoa, di Cirebon contohnya, mereka berjuang separuh hati karena khawatir disangka menjadi pemberontak.
Saat lawan medan perang menuju arah timur dan selatan, VOC meminta bantuan pasukan Madura dan Kartasura dari bawah Pakubuwono II. Namun Raja menanggapi, “Bukan bukanlah orang Tionghoa yang berada di bawah VOC? Belum pernah MALAH tentara Mataram yang mengalahkan orang Tionghoa.”
Tapi Pakubuwono II memang memiliki persaingan yang buruk dengan pasukan Raden Mas Garendi (Sunan Kuning, Amangkurat V) yang membantu oleh pasukan Tionghoa.
Pasukan Gabungan Kompeni dikirim dari Madura, Mandar, Makassar di Sulawesi, dan Ternate di Maluku untuk membantu Pakubuwono II. Pertempuran pecah dan berlanjut dengan menimbulkan kejadian pasukan pemberontak terbelah-belah.
Prajurit Tionghoa berhenti di Lasem dan melakukan konsolidasi di tempat itu.
Dalam peperangan menusia berikutnya, Amangkurat V diberikan Kapitan Sepanjang dan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa terakhir tidak mampu menahan serangan 1.007 pasukan (223 di antaranya pasukan eropa) VOC di bawah sepasukan Van Hohendorff (3 Juni 1743).
Pada tanggal 14 Juni, bakal Mangkunegara I, Raden Mas Said, dan Raden Penghulu, seorang pemimpin pemberontak di Jawa Timur, melakukan pertempuran bersama Wangsadipa yang digugat oleh VOC.
Pemberontak menerima dukungan dari pasukan Tionghoa di bawah pimpinan Kapten Sepanjang dan cucu Untung Surapati yang berkuasa di Daerah Bangil, Pasuruan, serta Surabaya.
Pada tanggal 2 Desember 1743, Sunan Kuning muncul di Loji Kompeni di Surabaya, yang menurut narabagiannya ada dengan keindahan, tapi menurut sumber lain, Sunan secara rahasia masuk ke perangkap VOC untuk bernegosiasi dan kemudian diamankan.
Kapten Sepanjang yang dahulu memisahkan diri dari Sunan Kuning memang tidak pernah mau berunding. Dia terus bergerak ke arah timur bersama bawahan dan menyerang pos-pos Belanda atau Kompeni.
Beberapa kali, dia terancam tertangkap tetapi selalu berhasil kabur. Dia kemudian berlayar dari Blambangan di ujung timur Jawa Timur ke Bali dan meminta perlindungan kepada raja-raja setempat.
Para penguasa menunjukkan simpati kepada tokoh yang menurut catatan Kompeni tidak pernah menyerah dan tidak pernah tertangkap selama tiga tahun melawan Kompeni. Jejak Kapten Sepanjang menghilang.
Ke mana perginya?